Raha, Sinarsultra.com- Pemkab Muna menggelar Launching Si Cantik (Sayangi Indonesia Cegah Sampah Plastik) dan Workshop Ecobrick sebagai upaya untuk mencegah penggunaan sampah plastik, yang dilaksanakan di Aula Galampano, Kamis 14 November 2024.
Kegiatan ini dihadiri dan dibuka secara langsung, Pjs Bupati Muna, Dra. Hj. Yuni Nurmalawati, M.Si, turut hadir Kepala DLH Prov. Sultra yang diwakili oleh Kabid PSLB3, Drs. La Ode Oba, M.Pd, serta beberapa para kepala OPD lingkup Pemkab Muna.
Adapun peserta Workshop Ecobrick ini, yakni Ibu-ibu PKK Kabupaten Muna danĀ siswa-siswi sekolah dari Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Pjs Bupati Muna, Yuni Nurmalawati dalam sambutannya menyampaikan bahwa berdasarkan data statistik secara Nasional, pada tahun 2023 timbunan sampah plastik mencapai 18 persen, dari total timbunan sampah dan penurunan luasan kehutanan sebanyak 37 persen di tahun 2024.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa sampah plastik yang terdiri dari sampah biasa, sedotan, kemasan membutuhkan membutuhkan beratus-ratus tahun untuk dapat terurai. Maka dari itu, Dengan adanya Launching Si Cantik dan Workshop Ecobrick yang dimulai di Kabupaten Muna dapat mencegah penggunaan sampah plastik di masyarakat.
Dirinya menghimbau kepada semua pihak untuk menjaga lingkungan demi menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan kesehatan bagi diri sendiri maupun keluarga.
“Saya mengajak kita semua untuk benar-benar bekerjasama dengan penuh semangat tinggi dan kemandirian dalam menjaga lingkungan serta kelestarian sumber daya alam khususnya menjaga kerusakan lingkungan dan menjaga timbulnya sampah plastik,”ungkapnya.
Kepala DLH Prov. Sultra yang diwakili oleh Kabid PSLB3, Drs. La Ode Oba, dalam sambutannya mengapresiasi pemerintah kabupaten Muna, terutam ibu Pjs Bupati yang telah menginisiasi kegiatan Launching Si Cantik dan Workshop Ecobrick.
Selain itu, ia menjelaskan mengenai bertambahnya jumlah sampah yang ada di Indonesia biasanya disebabkan karena adanya pertumbuhan penduduk, olehnya itu dibutuhkan kepedulian kepada semua pihak.
Pertumbuhan dan perkembangan sampah ini menjadi sesuatu yang sangat serius, maka oleh karena itu disuatu daerah tentu harus ditunjang dengan regulasi yang ada.
“Tanpa regulasi, saya kira pengelolaan sampah itu tidak akan berjalan dengan baik, misalnya di Kabupaten Muna jika belum memiliki suatu regulasi yang bisa mengikat dari suatu kompenen masyarakat terhadap pengelolaan sampah, saya pastikan tumpukan sampah akan terus bertambah,”terangnya.
“Maka dari itu pengelolaan sampah harus dibutuhkan semua kompenen, mulai dari SKPD terkait dan seluruh masyarakat,”ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa penanganan dan pengendalian sampah ini tentu semakin kompleks, baik dari jenis maupun dari sisi komposisi sejalan dengan majunya teknologi, tentu ini berpotensi dengan munculnya sampah.
Saat ini sampah plastik yang ada di Indonesia sudah menempati posisi 25 persen, bahkan di tahun 2030 yang akan datang yang akan mendominasi sampah diseluruh Indonesia itu adalah sampah plastik bahkan dapat mendekati posisi 40 persen.
“Tentu hal ini, semua harus kita kelola secara bijak dan maksimal supaya tidak menggangu kelestarian lingkungan hidup,”tandasnya.
Reporter : Ebit Vernanda













